membaca Judul di atas jangan langsung mengambil prasangka buruk ya🙂

hanya sekedar meluruskan arti kata dari “Idul Fitri” sesuai dari bahasa asalnya (arab), silakan simak ulasan berikut ini:

MAKNA IDUL FITHRI/ADHA

Oleh
Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat

Pada setiap kali menjelang Idul Fithri seperti sekarang ini (Ramadhan 1412H) atau tepat pada hari rayanya, seringkali kita mendengar dari para Khatib (penceramah/muballigh) di mimbar menerangkan, bahwa Idul Fithri itu maknanya -menurut persangkaan mereka- ialah “Kembali kepada Fitrah”, Yakni : Kita kembali kepada fitrah kita semula (suci) disebabkan telah terhapusnya dosa-dosa kita.
Penjelasan mereka di atas, adalah batil baik ditinjau dari jurusan lughoh/bahasa ataupun Syara’/Agama. Kesalahan mana dapat kami maklumi -meskipun umat tertipu- karena memang para khatib tersebut (tidak semuanya) tidak punya bagian sama sekali dalam bahasan-bahasan ilmiyah. Oleh karena itu wajiblah bagi kami untuk menjelaskan yang haq dan yang haq itulah yang wajib dituruti Insya Allahu Ta’ala.
Kami berkata :
Pertama ,
“Adapun kesalahan mereka menurut lughoh/bahasa, ialah bahwa lafadz Fithru/ Ifthaar” artinya menurut bahasa : Berbuka (yakni berbuka puasa jika terkait dengan puasa). Jadi Idul Fithri artinya “Hari Raya berbuka Puasa”. Yakni kita kembali berbuka (tidak puasa lagi) setelah selama sebulan kita berpuasa. Sedangkan “Fitrah” tulisannya sebagai berikut [Fa-Tha-Ra-] dan [Ta marbuthoh] bukan [Fa-Tha-Ra]”.

Kedua,
“Adapun kesalahan mereka menurut Syara’ telah datang hadits yang menerangkan bahwa “Idul Fithri” itu ialah “Hari Raya Kita Kembali Berbuka Puasa”.

Dari Abi Hurairah (iberkata) : Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda. “Shaum/puasa itu ialah pada hari kamu berpuasa, dan (Idul) Fithri itu ialah pada hari kamu berbuka. Dan (Idul) Adlha (yakni hari raya menyembelih hewan-hewan kurban) itu ialah pada hari kamu menyembelih hewan”.
[Hadits Shahih. Dikeluarkan oleh Imam-imam : Tirmidzi No. 693, Abu Dawud No. 2324, Ibnu Majah No. 1660, Ad-Daruquthni 2/163-164 dan Baihaqy 4/252 dengan beberapa jalan dari Abi Hurarirah sebagaimana telah saya terangkan semua sanadnya di kitab saya “Riyadlul Jannah” No. 721. Dan lafadz ini dari riwayat Imam Tirmidzi]

Dan dalam salah satu lafadz Imam Daruquthni :
yang artinya : “Puasa kamu ialah pada hari kamu (semuanya) berpuasa, dan (Idul) Fithri kamu ialah pada hari kamu (semuanya) berbuka”.

Dan dalam lafadz Imam Ibnu Majah :
Yang artinya : “(Idul) Fithri itu ialah pada hari kamu berbuka, dan (Idul) Adlha pada hari kamu menyembelih hewan”.

Dan dalam lafadz Imam Abu Dawud:
” Yang Artinya : Dan (Idul) Fithri kamu itu ialah pada hari kamu (semuanya) berbuka, sedangkan (Idul) Adlha ialah pada hari kamu (semuanya) menyembelih hewan”.

Hadits di atas dengan beberapa lafadznya tegas-tegas menyatakan bahwa Idul Fithri ialah hari raya kita kembali berbuka puasa (tidak berpuasa lagi setelah selama sebulan berpuasa). Oleh karena itu disunatkan makan terlebih dahulu pada pagi harinya, sebelum kita pergi ke tanah lapang untuk mendirikan shalat I’ed. Supaya umat mengetahui bahwa Ramadhan telah selesai dan hari ini adalah hari kita berbuka bersama-sama. Itulah arti Idul Fithri artinya ! Demikian pemahaman dan keterangan ahli-ahli ilmu dan tidak ada khilaf diantara mereka.
Bukan artinya bukan “kembali kepada fithrah”, karena kalau demikian niscaya terjemahan hadits menjadi : “Al-Fithru/suci itu ialah pada hari kamu bersuci”. Tidak ada yang menterjemahkan dan memahami demikian kecuali orang-orang yang benar-benar jahil tentang dalil-dalil Sunnah dan lughoh/bahasa.

Adapun makna sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa puasa itu ialah pada hari kamu semuanya berpuasa, demikian juga Idul Fithri dan Adlha, maksudnya : Waktu puasa kamu, Idul Fithri dan Idul Adha bersama-sama kaum muslimin (berjama’ah), tidak sendiri-sendiri atau berkelompok-kelompok sehingga berpecah belah sesama kaum muslimin seperti kejadian pada tahun ini (1412H/1992M).

Imam Tirmidzi mengatakan -dalam menafsirkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas- sebagian ahli ilmu telah menafsirkan hadits ini yang maknanya :
” Yang Artinya : Bahwa shaum/puasa dan (Idul) Fithri itu bersama jama’ah dan bersama-sama orang banyak”.
Semoga kaum muslimin kembali bersatu menjadi satu shaf yang kuat berjalan di atas manhaj dan aqidah Salafush Shalih. Amin![1]

[Disalin dari kitab Al-Masaa-il (Masalah-Masalah Agama)- Jilid ke satu, Penulis Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, Terbitan Darul Qolam – Jakarta, Cetakan ke III Th 1423/2002M]
_________

Foote Note

[1]. Ditulis akhir Ramadlan 1412H/awal April 1992

sumber:almanhaj.or.id

Saya copas dari Sumber Ini

semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan kita🙂

About kaiser777

seseorang yang terus berusaha mencari tahu akan segala hal dan senang berbagi

12 responses »

  1. alif says:

    misslanguage dalam memahami kata idul fitri disini, yg saudara kemukakan tentang iid yg punya makna kembali itu betul, tetapi kalau fitri disini bukan bermakna “berbuka”/makan tetapi tetap bermakna fitrah atau suci tetapi jika bermakna berbuka atau makan berasal dari akar kata aftoro yuftiru “iftoor” jadi kalau punya makna kembali berbuka ya bbukan idul fitri tapi idul iftor, begitu.
    yang kedua, secara linguistik bahasa arab kata zakat itu muanast (feminim) mk kata yg mengikutinya pun harus muanasts karena ini bentuk sifat mausuf atau na’at man’ut, mk ga benar pakai zakat fitri, karena fitri menunjukan mudakar (maskulin) mk betul menggunakan zakat fitrah.

    • abu says:

      Jadi redaksii hadits ini salah ya…?

      فَرَضَ رَسُولُ اللهِ زَكَاةَ الفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ عَلىَ الناَّسِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيْرٍ عَلىَ كُلِّ حُرٍّ أَوْ عَبْدٍ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى مِنَ المـسْلِمِين

      “Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam memfardhukan zakat fithr bulan Ramadhan kepada manusia sebesar satu shaa’ kurma atau sya’ir, yaitu kepada setiap orang merdeka, budak, laki-laki dan perempuan dari orang-orang muslim.” (HR. Jamaah kecuali Ibnu Majah dari hadits Ibnu Umar)

      Hadits lain..

      أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَمَرَ بِإِخْرَاجِ زَكَاةِ الْفِطْرِ أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ

      “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menunaikan zakat fitri sebelum berangkatnya kaum muslimin menuju lapangan untuk shalat hari raya.” (H.r. Muslim, no. 986).

    • abu says:

      Kemudian زكاةالفطر ini bukan na’at man’ut tapi mudhaf-mudhafun ilaihi.. lihat aja dalam redaksi hadits فرض رسول الله زكاةَالفطرِ yang kalau dia na’at man’ut maka harusnya kata dibaca ‘زكاةَالفطرَ yakni sama2 manshub bukan ‘زكاةالفطرَ’ yang mana dia di kasrah sebagai bawaan dari mudhafun ilaihi yakni selalu majrur…

      Allahu A’lam

    • abu says:

      Kemudian زكاةالفطر ini bukan na’at man’ut tapi mudhaf-mudhafun ilaihi.. lihat aja dalam redaksi hadits فرض رسول الله زكاةَالفطرِ yang kalau dia na’at man’ut maka harusnya kata dibaca ‘زكاةَالفطرَ yakni sama2 manshub bukan زكاةالفطرِ yang mana dia di kasrah sebagai bawaan dari mudhafun ilaihi yakni selalu majrur…

      Allahu A’lam

  2. Wahyu says:

    Menurut saya arti secara bahasa tidak bisa dimaknai secara leterlet spt itu, bahwa idul fitri artinya kembali berbuka. Bukan seperti itu. Tapi ada makna yg lebih di balik itu, misalnya spt penafsiran banyak ulama seperti makna yg kita kenal selama ini bahwa idul fitri adalah kembalinya kita ke fitrah, spt bayi yg baru lahir bahwa Allah telah mengampuni dosa2 kita setelah sebulan penuh berpuasa.

    Jika kita mngartikan idul fitri adalah kmbali berbuka, lalu bgmana kita mngartikan bulan ramadhan? Yg konon ramadhan artinya pembakaran??!

    • abu says:

      Jadi redaksii hadits ini salah ya…?

      فَرَضَ رَسُولُ اللهِ زَكَاةَ الفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ عَلىَ الناَّسِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيْرٍ عَلىَ كُلِّ حُرٍّ أَوْ عَبْدٍ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى مِنَ المـسْلِمِين

      “Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam memfardhukan zakat fithr bulan Ramadhan kepada manusia sebesar satu shaa’ kurma atau sya’ir, yaitu kepada setiap orang merdeka, budak, laki-laki dan perempuan dari orang-orang muslim.” (HR. Jamaah kecuali Ibnu Majah dari hadits Ibnu Umar)

      Hadits lain..

      أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَمَرَ بِإِخْرَاجِ زَكَاةِ الْفِطْرِ أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ

      “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menunaikan zakat fitri sebelum berangkatnya kaum muslimin menuju lapangan untuk shalat hari raya.” (H.r. Muslim, no. 986).

  3. panjul says:

    Saya tidak sependapat dengan postingan ini kareena kebanyakan para alim ulama kyai ustad mengartikan bahwa idul fitri itu kembali ke fitrah atau suci kembali. Sedangkan yg diartikan dalam post ini saya belum pernah sekalipun mendengarkan pengemuka agama mengartikan seperti itu !!!

  4. Hendry says:

    Imam Istiqlal: Ada Kesalahan Makna Idul Fitri

    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA– Berbagai mubaligh dan para da’i mempublikasi, hari raya idul fitri adalah perayaan seseorang kembali kepada kesucian. Idul fitri pantas dirayakan karena telah sebulan lamanya berperang melawan hawa nafsu.

    Dari sanalah banyak yang mengatakan, idul fitri adalah hari kemenangan. Kemenangan telah berhasil menakhlukkan hawa nafsu setelah sebulan lamanya. Tapi benarkah dalam kamus fikih Islam dan tatanan bahasa Arab bermakna demikian?

    Menurut Imam Besar Masjid Istiqlal, KH Ali Mustafa Ya’qub, ‘id dalam bahasa arab berarti kembali atau kejadian yang berulang-ulang. Hal ini disebabkan, idul fitri adalah sesuatu yang berulang-ulang diperingati setiap tahunnya. Sedangkan fitri artinya makan.

    “Jadi bisa dikatakan, Idul Fitri adalah hari makan siang tahunannya umat Islam,” jelas Ali kepada Republika, Kamis (8/8).

    Ali Mustafa membantah, jika idul fitri diartikan kembali kepada kesucian, sebagaimana digembar-gemborkan para da’i dan muballigh. Baginya, pemaknaan idul fitri dengan penafsiran kembali kepada kesucian adalah penafsiran yang keliru dan tak berdasar.

    Demikian juga dengan istilah zakat fitrah, apakah benar dengan berzakat dua setengah liter beras dapat mengembalikan seseorang kepada fitrah sebagaimana ia baru dilahirkan? “Fitri itu artinya makan. Kalau fitrah itu artinya kondisi manusia saat dilahirkan ke dunia,” jelasnya.

    Di negeri arab sendiri, zakat fitrah disebut dengan zakat fithar (zakat makan). Untuk itu, zakat harus dikeluarkan dalam bentuk makanan seperti kurma, gandum, atau beras.

    Adapun menamakan zakat tersebut dengan zakat fitrah, menurut Ali Mustafa juga suatu kekeliruan. Zakat fitrah tidak bisa menjadikan seseorang suci, sebagaimana ia fitrah saat dilahirkan ke dunia. Tidak ada dalil yang sahih yang bisa dijadikan rujukan dalam hal ini.

    sumber :
    http://www.republika.co.id/berita/ramadhan/ibrah/13/08/08/mr75pa-imam-istiqlal-ada-kesalahan-makna-idul-fitri

  5. Kaiser777,… goblok itu jgn dipelihara. Punya pendapat atau tahu pendapat salah orang jgn dishare. Hanya menjadi dosa yg terus bertumpuk berakhir laknatullah alaik. Belajar dl yg bener bahasa arab, belajar Islam yg benar!!! Agar gak KATROX!!!

    • abu says:

      Jadi Yang Ini Juga Goblok Ya Mas…?

      Imam Istiqlal: Ada Kesalahan Makna Idul Fitri

      REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA– Berbagai mubaligh dan para da’i mempublikasi, hari raya idul fitri adalah perayaan seseorang kembali kepada kesucian. Idul fitri pantas dirayakan karena telah sebulan lamanya berperang melawan hawa nafsu.

      Dari sanalah banyak yang mengatakan, idul fitri adalah hari kemenangan. Kemenangan telah berhasil menakhlukkan hawa nafsu setelah sebulan lamanya. Tapi benarkah dalam kamus fikih Islam dan tatanan bahasa Arab bermakna demikian?

      Menurut Imam Besar Masjid Istiqlal, KH Ali Mustafa Ya’qub, ‘id dalam bahasa arab berarti kembali atau kejadian yang berulang-ulang. Hal ini disebabkan, idul fitri adalah sesuatu yang berulang-ulang diperingati setiap tahunnya. Sedangkan fitri artinya makan.

      “Jadi bisa dikatakan, Idul Fitri adalah hari makan siang tahunannya umat Islam,” jelas Ali kepada Republika, Kamis (8/8).

      Ali Mustafa membantah, jika idul fitri diartikan kembali kepada kesucian, sebagaimana digembar-gemborkan para da’i dan muballigh. Baginya, pemaknaan idul fitri dengan penafsiran kembali kepada kesucian adalah penafsiran yang keliru dan tak berdasar.

      Demikian juga dengan istilah zakat fitrah, apakah benar dengan berzakat dua setengah liter beras dapat mengembalikan seseorang kepada fitrah sebagaimana ia baru dilahirkan? “Fitri itu artinya makan. Kalau fitrah itu artinya kondisi manusia saat dilahirkan ke dunia,” jelasnya.

      Di negeri arab sendiri, zakat fitrah disebut dengan zakat fithar (zakat makan). Untuk itu, zakat harus dikeluarkan dalam bentuk makanan seperti kurma, gandum, atau beras.

      Adapun menamakan zakat tersebut dengan zakat fitrah, menurut Ali Mustafa juga suatu kekeliruan. Zakat fitrah tidak bisa menjadikan seseorang suci, sebagaimana ia fitrah saat dilahirkan ke dunia. Tidak ada dalil yang sahih yang bisa dijadikan rujukan dalam hal ini.

      sumber :
      http://www.republika.co.id/berita/ramadhan/ibrah/13/08/08/mr75pa-imam-istiqlal-ada-kesalahan-makna-idul-fitri

    • abu says:

      Terus yang nulis redaksi hadits ini juga gak ngerti Bahasa ya…. dan hanya anda yang ngerti bahasa… dan dari mana anda tahu klo yang di share ini salah dan berdosa….ckckckckck…

      Klo dari komentar anda…berarti Imam Muslim, Bukhari, Abu Daud, Tirmidzi, An Nasai Semuanya Goblok dan gak ngerti bahasa Arab… dan hanya anda yang ngerti bahasa arab… ckckckck…

      AJAIB…..

      فَرَضَ رَسُولُ اللهِ زَكَاةَ الفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ عَلىَ الناَّسِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيْرٍ عَلىَ كُلِّ حُرٍّ أَوْ عَبْدٍ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى مِنَ المـسْلِمِين

      “Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam memfardhukan zakat fithr bulan Ramadhan kepada manusia sebesar satu shaa’ kurma atau sya’ir, yaitu kepada setiap orang merdeka, budak, laki-laki dan perempuan dari orang-orang muslim.” (HR. Jamaah kecuali Ibnu Majah dari hadits Ibnu Umar)

      Hadits lain..

      أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَمَرَ بِإِخْرَاجِ زَكَاةِ الْفِطْرِ أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ

      “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menunaikan zakat fitri sebelum berangkatnya kaum muslimin menuju lapangan untuk shalat hari raya.” (H.r. Muslim, no. 986).

Setitik komentar, saran, masukan atau bahkan kritik Anda akan sangat mempengaruhi kelangsungan blog ini. Komentar Anda akan langsung muncul tanpa persetujuan saya terlebih dahulu demi kenyamanan Anda. Terima kasih sudah berkenan memberi komentar :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s