Mungkin pertanyaan ini sedikit mengganggu: Manakah diantara kalimat-kalimat di bawah ini yang benar?

  1. Minal ‘aidin wal faizin, mohon maaf lahir-bathin
  2. Mohon maaf lahir-bathin, minal ‘aidin wal faizin
  3. Semoga kita dimaafkan minal ‘aidin wal faizin
  4. Semoga kita minal ‘aidin wal faizin
  5. Semua benar?

Kalau kita tadi menyoal tentang asal kata Ied (masdar atau kata dasar dari ‘aada=kembali), sekarang kita mencoba untuk membongkar asal kata ‘Aidin dan aizin. Dari mana sih mereka? ‘Aidin itu isim fa’il (pelaku) dari ‘aada. Kalau anda memukul (kata kerja), pasti ada proses “pemukulan” (masdar), juga ada “yang memukul” (anda pelakunya). Kalau kamu “pulang” (kata kerja), berarti kamu “yang pulang” (pelaku). Pelaku dari kata kerja inilah yang dalam bahasa Arab disebut dengan isim fa’il.

Kalau si Aidin, darimana?

‘Aidin atau ‘Aidun itu bentuk jamak (plural) dari ‘aid, yang artinya “yang kembali” (isim fa’il. Baca lagi teori di atas). Mungkin maksudnya adalah “kembali kepada fitrah” setelah berjuang dan mujahadah selama sebulan penuh menjalankan puasa.

  • ‘aada = ia telah kembali (fi’il madhi).
  • Ya’uudu = ia tengah kembali (fi’il mudhori)
  • ‘audat = kembali (kata dasar)
  • ‘ud = kembali kau! (fi’il amr/kata perintah)
  • ‘aid = ia yang kembali (isim fa’il).

Kalau si Faizin?

Si Faizin juga sama. Dia isim fa’il dari faaza (past tense) yang artinya “sang pemenang”. Urutannya seperti ini:

Faaza = ia [telah] menang (past tense)

Yafuuzu = ia [sedang] menang (present tense)

Fauzan = menang (kata dasar).

Fuz = menanglah! (fi’il amr/kata perintah)

Fa’iz = yang menang.

‘Aid (yang kembali) dan Fa’iz (yang menang) bisa dijamakkan menjadi ‘Aidun dan Fa’izun. Karena didahului “Min” huruf jar, maka Aidun dan Faizun menyelaraskan diri menjadi “Aidin” dan “Faizin”. Sehingga lengkapnya “Min Al ‘Aidin wa Al Faizin”. Biar lebih mudah membacanya, kita biasa menulis dengan “Minal Aidin wal Faizin”.

Lalu mengapa harus diawali dengan “min”?

“Min” artinya “dari”. Sebagaimana kita ketahui, kata “min” (dari) biasa digunakan untuk menunjukkan kata keterangan waktu dan tempat. Misalnya ‘dari’ zuhur hingga ashar. Atau ‘dari’ Cengkareng sampe Cimone.

Selain berarti “dari”, Min juga mengandung arti lain. Syekh Ibnu Malik dari Spanyol, dalam syairnya menjelaskan:

Ba’id wa bayyin wabtadi fil amkinah # Bi MIN wa qad ta’ti li bad’il azminah
Artinya: Maknailah dengan “sebagian”, kata penjelas dan permulaan tempat… dengan MIN. Tapi kadang ia untuk menunjukkan permulaan waktu.
Dari penjelasan Ibnu Malik di atas, kita bisa mendapatkan gambaran bahwa MIN pada MIN-al aidin wal faizin tadi menunjukkan kata “sebagian” (lit-tab’idh). Jadi secara harfiyah, minal ‘aidin wal-faizin artinya: BAGIAN DARI ORANG-ORANG YANG KEMBALI DAN ORANG-ORANG YANG MENANG.

Nah, pusing kan?

Kalimat di atas adalah kalimat doa. Baik dalam Al-Quran dan Hadis banyak kalimat-kalimat seperti itu yang menunjukkan doa kepada yang bersangkutan. Kita sering menambahi julukan kepada orang yang sudah wafat dengan tambahan “almarhum” yang artinya “yang dirahmati” (terserah orang tersebut rajin sholat atau gak pernah sama sekali). Sebab, itu hanya doa dan pengharapan “semoga ia dirahmati oleh Allah, diberikan kasih sayang-Nya di alam barzakh hingga hari Kiamat”.

Akan halnya dengan minal ‘aidin wal-faizin, ini juga doa: “Semoga anda termasuk (bagian dari) orang-orang yang kembali kepada fitrah kesucian dan termasuk (bagian dari) orang-orang yang mendapatkan kemenangan”. Amin.

Duh indahnya Islam. Sama orang yang nggak puasa saja, sempet-sempetnya kita doain yang bener.

Kesimpulannya?
Ya simpulkan saja sendiri. Yang jelas Minal Aidin tidak ada hubungannya dengan Mohon maaf lahir dan bathin. Ucapkan kalimat a, boleh. Memakai kalimat b, silakan saja. Tapi sekali lagi, mohon maaf lahir bathin itu bukan arti minal aidin. Dan yang penting lagi: jangan memilih c, karena minal aidin tidak pernah bisa memaafkan orang. Tapi pilihan saya adalah d, ini yang paling shahih.

Akhirnya, semoga kita minal ‘aidin wal faizin. Amin!

Saya copas dari sini.

Pun demikian Rasulullah SAW mengajarkan berucap “Taqobbalallahu minna wa minkum (Semoga Allah menerima amalku dan amal kamu)”

Berdasarkan Hadits:

Dari Jubair bin Nufair, ia berkata bahwa jika para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumpa dengan hari ‘ied (Idul Fithri atau Idul Adha, pen), satu sama lain saling mengucapkan, “Taqobbalallahu minna wa minka (Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).” Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan.

Nah, demikian postingan berkenaan dengan Hari Raya Idul Fitri 1432H kali ini, semoga bermanfaat🙂

About kaiser777

seseorang yang terus berusaha mencari tahu akan segala hal dan senang berbagi

Setitik komentar, saran, masukan atau bahkan kritik Anda akan sangat mempengaruhi kelangsungan blog ini. Komentar Anda akan langsung muncul tanpa persetujuan saya terlebih dahulu demi kenyamanan Anda. Terima kasih sudah berkenan memberi komentar :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s